April 27, 2005
Quick Facts and news flash about this blog.
This blog was established at April 21 2005, so it makes this blog already 6 days old. Hehe
. So far we have several additions. I’ll list ‘em here :
Contributors
So far we already have 7 registered contributors, in no particular order :
Fun stuff
I have added a chatterbox and site counter. Both of them is displayed at sidebar, the right section of this page.
Languange
IMHO, we can post in any languages. Indonesia, Suroboyoan, Sunda, Galia, or even Klingon. A more cryptic languanges such as Java or C# isnt prohibited either. Just make sure your audience is getting your message. If a simple telepathy is sufficient, then telepathy is.
So, any suggestion about how can we improve the usability and quality of this blog are welcome.
April 26, 2005

” Tuhan, Engkau tahu aku seorang illiterate, buta huruf dan tidak mengerti bagaimana seharusnya berdo’a kepadamu dengan benar. Karena itu, aku serahkan kumpulan huruf dalam surat ini, aturlah sesuka-Mu menjadi do’a yang terbaik, karena Engkaulah Sang Maha Indah. Padamu hanya kuserahkan ketulusan dan kepasrahan..”
Sebuah penggalan dari kisah Do’a Sang Katak, karangan Pater De Mello, yang saya kagumi karena esensinya yang mendalam.
Semangat simbolisme (baca:formalisme) dalam beragama, sudah dimulai jauh-jauh hari, bahkan ketika suatu bentuk budaya yang bernama agama, lahir ke muka bumi ini. Semangat ini ditandai dengan menguatnya unsur-unsur puritanisme, lembaga yang memiliki kekuasaan yang sangat besar, dan aturan-aturan kaku yang hanya berbicara benar dan salah, tanpa memahami hubungan sebab akibat dan kondisi yang berlaku.
Tradisi agama-agama besar juga pernah (dan mungkin) masih dipenuhi dengan kuatnya simbolisme dan formalisme dalam kesehariannya. Kristen Katolik dengan lembaga kepausan, doktrin-doktrin Nicea (yang kemudian di-revisi dalam kaitannya dengan wanita dan ilmu pengetahuan), Islam pada masa kekhalifahan Abbasiyah yang menjadi ajang perseteruan antara Sunnah-Syiah yang sebenarnya lebih bertendensi politis ketimbang teologis, Budha pada masa awal pembentukan Aliran Zen Mahayana di Cina dan lain-lain.
Kekakuan dalam menerima doktrin tanpa mau melihat perkembangan kehidupan manusia, dan penghormatan berlebihan terhadap simbol, menjadikan prinsip formalisme ini menjadi sebuah kekuatan politik, –yang dengan demikian–, memiliki kekuatan untuk menghukum, siapa saja yang dianggap tidak sealiran,..dus tidak sesuai dengan pesan yang tercantum dalam kitab suci.
Kita sekali lagi dihadapkan dengan insiden simbolisme ini pada band Dewa, yang menggunakan kaligrafi sebagai cover, versus FPI yang mewakili sisi formal dalam agama. Kejadian yang sama pernah juga dialami Iwan Fals pada cover kaset dan CD-nya.
Saya pernah bertanya kepada seorang rekan : “Ketika engkau memandang salib, apa yang kamu pandang paling penting, simbol salib, Yesus yang disalibkan, atau nilai-nilai universal yang dibawa oleh orang yang disalibkan (Yesus) ?” . Teman saya menjawab yang terakhir, yang artinya dia telah ada pada tahap diatas formalisme dalam beragama, dia sudah mencapai esensi dalam beragama.
Sama seperti Maulid Nabi yang kita peringati setiap tahun, jika kita melakukannya sekedar sebagai sebuah ritus, maka kita terjebak dalam formalisme agama. Sudah sepatutnya kita memperingatinya untuk meneladani kepribadian Muhammad SAW, dan yang lebih penting, menggapai esensi ajaran-ajarannya.
Semangat formalisme dan simbolisme yang berlebihan dalam beragama, hanya mengantarkan kita untuk menjadi fanatik tanpa makna. Dalam “Kiai Sudrun Gugat“, Emha Ainun Nadjib menafsirkan simbolisme ini sebagai sebuah pendangkalan akidah, yang berujung pada fanatisme buta, dan politisasi agama. Hassan Hanafi, dalam “Kiri Islam” memandang formalisme agama adalah hal sempit yang harus dihindari, karena sesungguhnya agama, sebagai sebuah ajaran moral, harus ditempatkan dalam sebuah kerangka pengajaran dan kearifan universal. Sebagai sebuah ajaran universal, dialah yang harus membatasi nilai-nilai lain yang akan selalu berubah dari waktu ke waktu, bukan terjebak dalam sebuah bingkai formalisme dan simbolisme yang kaku.
Jadi, mari lepaskanlah simbol dan baju formal kita, dan mari kita mencari esensi dari simbol-simbol atau kaidah2 formal yang ada dalam agama kita masing-masing. Schimmel, dalam “Mysticism in Islam” mengasumsikan, dan saya sependapat dengan beliau, kita akan sampai pada titik yang tidak terlalu berbeda,– atau bahkan sama–, ketika mencari esensi ini.
Salam,
Denpasar, April 2005
Mas Jabier
April 21, 2005
Untuk mulai menulis di blog ini anda hanya perlu register. Lebih mudah lagi anda minta tolong kepada aster atau korlap untuk diregisterkan. Segera setelah diregister, maka kami akan mengedit privelleges anda menjadi setara admin juga. Diatur bareng rek ben apik
.
Awalnya pernah kami bikin di blogspot. Meninggal dengan sukses karena nggak ada yang ngurusin (waktu itu). Hari ini saya pindah saja ke blogsome karena blog engine-nya menggunakan wordpress. Wordpress sudah terkenal simple, handal, tangguh, dan yang pasti free/gratis.
Tapi ada juga seh tendensi pribadi : saya juga pake wordpress di blog pribadi.. kekeke
Anatomi Sebuah Post
Tulisan dalam blog, disebut pula sebagai Post. Post ini akan ditampilkan secara urut mundur mulai dari waktu sekarang ke waktu lampau. Di satu halaman blog, saat ini diset untuk menampilkan 10 post sekaligus.
Setiap Post selayaknya memiliki :
- Isi Post.
- Judul
Deskripsi tentang post tersebut. Bisa saja sebuah post tidak memiliki judul, namun praktik ini tidak dianjurkan.
- Tanggal post
Ini elemen wajib. dan sudah otomatis bagi setiap post.
- Comment
Lihat penjelasan dibawah.
Sebuah post dapat dikaitkan dengan satu atau lebih kategori. Sementara ini kami menyediakan kategori sbb :
- Umum
- Sosial
- Politik
- Pendidikan
- Budaya
- Kempal-kempal , misal : undangan kumpul-kumpul di Jerman dlsb.
- Pribadi dan Keluarga : misal cerita ttg putra putrinya, atau kabar-kabari sesama Kantiners. Andias mau nikah, Luna mo punya adik lagi, Echok dapt dipastikan menikah 1 Mei ini, Teno lagi patah hati dlsb..
Usul kategori tetep dibuka, asal jangan lupa posting juga ya.
Diskusi Di Blog
Diskusi di blog sangat dimungkinkan oleh 2 fasilitas yaitu Comment dan Trackback.
Comment adalah komentar untuk post. Misal anda ingin memperjelas suatu ide di post, atau usulan, atau mungkin malah anda tidak setuju akan post tsb.. maka ide anda ini dapat dituangkan dalam bentuk comment.
Jika misalnya anda merasa bahwa comment tidak cukup untuk menanggapi sebuah post, maka anda perlu untuk membuat sebuah post lain yang isinya menanggapi post pertama tadi. Post tanggapan seperti ini kerap disebut trackback.
Enough talking. Gimme some actions.
Ok boz. Langkah pertama yang harus anda lakukan adalah Register. Setiap user yang terdaftar akan memiliki peringkat administratif. Nantinya semua user akan berperingkat 5 sehingga mudah melakukan post dan edit post.
Langkah kedua adalah, apalagi, menulis posting. Ah, plis jangan bilang anda sibuk atau gak punya ide.
Kalau mengingat kewajiban ekonomi dan ilahiah malah mestinya anda gak akan punya waktu untuk membaca sampai sejauh ini. Bettul tidak ? (pake aksen AAGym).
"Tidak ada yang namanya waktu luang. Yang ada hanyalah luangkan waktu. "
Gak punya ide ? Ow… alasan itu kembali lagi… Ide memang pemberian Tuhan, bung. Tapi kita memang harus merangkak untuk mendapatkan ide itu. Be more creative. After all, you’re kantiner.
So so..
What so ? You know the rules. You know the game. Diskusi setiap rebo malem kemis dan atau jumat malem sabtu tetep rutin. Seng penting jo sampe kepaten obor rek…
.
Selamat Datang, Cuk!
Ini blog, kepanjangan dari web + log. Bisa diartikan secara katarsis sebagai : catatan harian online. Medium informal kolaborasi. Unofficial PR bagi beberapa corporate.
Kebiasaan Kantiner paling mbleset, menurut saya yaitu males nyatet. Syndroma mbambet males nulis. Tanpa ada dokumentasi, meskipun itu seadanya, ya mustahil sebuah komunitas bisa tumbuh berkembang. Bisa seh bisa, cuman efforts untuk transfer pengetahuan dari satu person ke yang lain butuh energi yang nggak sedikit.
Syndroma ini dulunya sering dicerminkan dengan tolok ukur : frekuensi terbitan majalah/koran/tabloid terbitan temen-temen. Katakan SatuKosong dan Setengan Tiang.
Terbukti, sekarang komunitas kantin sudah mampus. Anggota baru kebingungan mau cari referensi dimana, anggota lama sudah punya kesibukan dan hidup sendiri-sendiri. Para tetua-pun… sudah lenyap hilang tak tentu rimbanya.
Kalapun ada newcomer yang militan, ughhh, pasti bertambah berat perjuangannya. Cari wacana, ngatur stratak, demo, ngumpulin link, membangun komunitas… dan ini semua dilakukan mulai dari NOL lagi.
Sial. ITS memang punya kutukan, ndak pernah membangun sesuatu dari yang sudah ada. Maunya gebyah uyah.
So, ok katakan kantiner sudah punya kesibukan sendiri. Ada yang sudah jadi bapak, jadi ibu, jadi "orang" di perusahaan bla bla bla, sibuk cari jodoh, sibuk mau upgrade jodoh, dlsb. Ini bisa dimaklumi, sudah sewajarnya karena kita manusia yang terikat diantara ruang kenihilan ala Nieztche dan metamorf Sisifus (gludhak…). Tetapi hubungan silaturahmi (gludhak pindho..) dan kesinambungan gerakan ya tetep harus ada yang menjaga (wes ra sah gludhak’an).
Merangkai pikiran subversive kawan-kawan dan menyajikan dalam bentuk tertulis sehingga mudah dilacak dan didiskusikan dikemudian hari. Itulah kenapa kami nekad membuka blog ini. Dan kami harap,mampu menjaganya hidup.
Ahlan wa salam, Tuhan memberi kami dua tangan, sehingga jika satu tangan putus maka tangan yang lain masih mampu untuk login dan menulis : LAWAN!!.
Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!