May 30, 2005
Atas Nama Kebiadaban,
‘Kuhancurkan semua tempat yang ingin kuhancurkan,
‘Kuambil nyawa orang-orang, entah bersalah atau tidak,
‘Kuledakkan tempat-tempat yang ingin kuledakkan.
Atas Nama Kebiadaban,
, tidak, tidak ada yang lain,
kadang-kadang aku berlindung dibalik jubah agama,
atau jas para birokrat,
tertawa riang bersama cukong-cukong bisnis,
sekali lagi, bukan atas atau untuk nama apapun,
selain kebiadaban semata.
‘kupalsukan segala yang bisa kupalsukan,
‘kupisahkan segala yang bisa ‘kupisahkan,
aku tidak perduli jeritan, darah, air mata,
orang-orang yang berdosa,
sebab,..sekali lagi,
aku melakukan itu semua atas nama kebiadaban.
Jangan pernah tertipu oleh sahabat2ku,
yang kadang-kadang bertindak atas nama kepentingan nasional,
atau kepentingan agama,– atau kepentingan kaum-kaum munafik,
sebab sekali lagi, kuberitahu engkau,
bahwa yang kami lakukan tak lebih atas nama kebiadaban.
Jelas, kami bukan manusia,
mana ada manusia berakal dan beradab,
tega melakukan hal-hal yang kami lakukan ?
Wujud kami manusia, tapi hati kami adalah sejatinya iblis,
lihatlah yang kami lakukan di Bali, Mariott, Kuningan,
Ambon, dan Poso,
Adakah kalian tidak melihat bahwa kami adalah Iblis,
Iblis berwujud manusia,
yang melakukan semuanya atas nama kebiadaban.
Ya, atas nama Kebiadaban,
Jangan samarkan dengan yang lain, kawan,
sekali lagi, atas nama kebiadaban,
Kami melakukan semua itu.
Denpasar, 30 Mei 2005
“Untuk orang-orang biadab dibalik aksi terorisme di Indonesia, matilah kalian !”
referensi : Dan kata-kata pun tak mampu melukiskan
May 28, 2005
Satu gambar, multi virus 
May 11, 2005
Saya sempat pesimis.
Awalnya saya kira Kantin Digital akan hiatus. Lagi-lagi dalam hidup, saya salah. Dan jujur, rasa salah seperti ini sangat menyenangkan
.
Menarik apa yang diposting oleh Mas Jodi, Mas Teno, dan Mas Rachmad tentang Quo-Vadis Kantin ITS. Ini adalah contoh sempurna tentang apa itu trackback.
Sebagaimana yang kita mahfum, bahwa sebuah Post bisa dikomentari oleh audiens. Tapi kemudian ada kalanya pihak audiens merasa bahwa komentarnya layak dibuat post tersendiri (blogworthy istilah kerennya). Nah, komentar yang dijadikan post tersendiri inilah yang disebut sebagai trackback.
Trackback pada awalnya dipelopori oleh SixApart, perusahaan yang memiliki produk CMS / Blog Engine seperti MoveableType dan TypePad. Kalau anda cermat, Friendster Blog dimesini oleh TypePad. Sebagai perbandingan, Blog ini menggunakan engine WordPress. Sedangkan Blogger menggunakan teknologi PyraLab.
Trackback dikenal pula dengan istilah ping. Implementasi teknis trackback bisa bermacam-macam. Beberapa menggunakan tool tersendiri, tetapi kebanyakan tidak. Contoh jika di WordPress, saat kita menulis URL link saat itu pula WordPress akan otomatis melalukan trackback.
Contoh, coba anda lihat bagian comment posting-an Quo Vadis Kantin ITS. Disitu ada keterangan bahwa telah menerima trackback dari posting ini.
Jika misalnya anda ingin melalukan trackback ke posting lain tapi tidak ada URL link yang mengarah kesana dalam post anda, maka kita bisa melakukan manual trackback saat menulis post. Ada di bagian bawah text area untuk menulis posting, dengan label “TrackBack a URI: (Separate multiple URIs with spaces.)”.. Tulis saja alamat URL ke textbox disana.
Oh, ini buruk. Saya seorang diktator, saya tidak ingin dibantah atau dikomentari.
Mudah saja, anda bisa secara spesifik untuk tidak memperbolehkan audiens melakukan trackback dan comment dengan mencentang checkbox pilihan di section Discussion. Jika section Disccussion ini tidak terlihat, maka mungkin anda harus mengaktifkan fitur Advanced Editing.
Note : Paragaraf ini berlaku untuk antarmuka posting blog via WordPress.
Well, enuf said. Happy posting then. Prove me wrong please
.
May 10, 2005
Mungkin ini adalah posting terakhir menggunakan judul : “Quo Vadis Kantin ITS?” dengan tambahan “Re: ” berkali-kali didepannya, setelah itu pasti Godfather dari blog ini akan bikin peringatan keras, dengan bahasa tetek bengeknya, bahwa selain dia adalah “anak kemaren sore” dalam dunia per-blog-an..
Akhir 1999
Pasca Bakti Kampus ITS 1999, mantan SC gugus, Mas Lege’ bilang : “Mad, sering-sering nang kantin yo.. awakedewe diskusi nang kunu ae.. akeh wacana ITS sing perlu kon eruhi..”
2000
Pemira ITS, semakin mempertontonkan padaku ada 2 kekuatan yang terdistorsi dalam 2 kutub kuat yang saling berlawanan. Gesekan semakin rawan dan penuh kenangan, saat terjadi insiden memalukan pada saat penutupan Bakti Kampus ITS 2000. Mata batinku sedikit tercengang, terbuka lebar.. aku menjadi penonton.
10 Nopember 2000
Demo peringatan Hari Pahlawan. Bersama KAMI. Berhari-hari hanya membahas serangkaian mekanisme dan ending ceremonialnya. Aku jadi aster, kekekekekekk…
2002
Membangunkan kembali ruh yang sempat tertidur, membangkitkan idealisme yang pernah terseok-seok oleh birokrasi, mengumpulkannya, menyusunnya kembali, mengatur strategi, dalam wadah Bakti Kampus ITS 2002. Semua untuk 1 kata : Idealisme! Yang tak boleh mati (lagi).
Awal 2005
Kantin penuh wajah baru. Penuh wangi-wangian, wajah-wajah cantik, penuh canda tawa, pernak-pernik, seakan mengubur semua bagian dari sejarah, yang kutemukan hanya kilatan kenangan : “disini kami pernah ada, berpacu dengan waktu menorehkan idealisme, menyusunnya dalam sebuah pergerakan, membuat revolusi itu tidak pernah berhenti bergulir..”
Nama-nama yang tak bisa kulupa : Mas Lege, Purwito, Agus Restyono, Danang, Andias, Luki, Teno, Blaque, Mardi, Sigit, Lutfi, Kaspo, dan nama-nama yang sudah terkelupas dari memory ku, semua yang begitu berharga untuk diingat, semua yang begitu berharga untuk dikenang, semua yang begitu berharga untuk ditulis dalam kertas sejarah.
Aku bukan kantiner sejati, aku tahu aku tidak layak menyandang itu.. tapi aku tahu bagaimana caranya menghormati mereka.
Kantin ITS, 29 Februari 2000
Akhirnya, dengan berat hati organisasi yang telah memberikan banyak hal kepada kami ini terpaksa dibubarkan. Karena tiadanya kepedulian dari para pendiri dan anggota, serta kevakuman yang telah terjadi beberapa bulan terakhir.
Kantin ITS, 4 Maret 2000, Siang Hari
“Janc*k kon!!!. Kon iku sopo? Kon iku arek wingi sore, kok wani2ne mbuyarno KAMI? Kon tau duwe jasa opo nang KAMI?”
Dan masih banyak pertanyaan2 lainnya tanpa sempat terjawab oleh saya dan seorang kawan. Didepan kami berdua telah duduk belasan orang2 tuwek, dengan expresi wajah yang tidak bisa diungkapkan dengan kata2.
Depan DPRD II Surabaya (Alias Depan Mitra), Pertengahan Maret 2000
“Lagi lapo Mas? Kok wong tuwek2 tumben ngumpul nang kene?” tanyaku pada Mas U. “Yo ngomongno rai2mu iku!!. Mbahas polahmu sing ga karu2an!!” jawabnya dengan muka yang luar biasa!!!!
Awal April 2000, U 101
Mungkin inilah rapat arek2 kantin ITS terbesar yang pernah ada (hingga tulisan ini dibuat) setelah era reformasi. Sebuah pembuktian bahwa masih banyak yang peduli dengan KAMI. Sebuah rapat yang dipenuhi konflik, hampir menjurus kekerasan khas kantin. Akhirnya keputusan telah bulat. KAMI harus tetap berdiri dengan segala konsekuensinya.
Dan kami, para pembubar KAMI (yang katanya arek wingi sore) mampu tersenyum bahagia (Masio dipisuh-pisuhi wong akeh) karena telah terbukti bahwa rasa memiliki itu masih ada.
Tanjung Barat, Jaksel, 10 Mei 2005
Yo opo kantin saiki yo?
May 9, 2005
an old friend of mine has just sent me email this quote :
Orang awam berzikir dengan lidah, meski hatinya turut mengikuti.
Dia berulang-ulang menyebut nama kekasihnya dan merasa senang karenanya.
Sedangkan orang khawas berzikir dengan hati.
Dia membayangkan hakikat sang kekasih dilubuk hati dan terjadilah percakapan ruh.
Sementara zikir termulia adalah leburnya pezikir didalam Mazkur (yg diingat).
Dia kehilangan kesadaran diri dan menyatu dengan objek cintanya.
(Rindu Tiada akhir-Binyamin abrahamov.hal-205)
Frankly, I totally lost about this. Anyone can help ?

“Tidak ada privilege yang abadi. Yang abadi hanyalah rakyat” -Mira Bauw-
Kantin ITS, medio Agustus 1995
Kepulan-kepulan asap rokok ditingkahi dengan tegukan kopi hitam kental, asyik mengiringi diskusi-diskusi yang diadakan oleh (waktu itu) GPK, sebuah singkatan dari Gerombolan Penghuni Kantin ITS, dengan logonya yang begitu manis, sendok– dan garpu– ditingkahi senyum sebuah wajah lucu. Tema diskusi beragam, dari mulai yang ringan-ringan mengenai kemahasiswaan ITS, tipikal cewek ITS, hingga yang agak berat — agama, politik, kondisi kekinian, subversif, dan sangat berat menyentuh wilayah filsafat yang kadang-kadang bikin orang gak mudheng. Dengan peserta yang dari background yang variatif : QueCheng yang progresif-revolusioner, Munawar si santri gendheng dari JMMI, Sidhi Kapal 92 yang ngelothok masalah peradaban Russia dan Leninis sejati, Seto si Menwa gendheng, dengan gesture-gesture yang bisa dimasukkan dalam komik, beberapa penganut SosDemIs (Sosialisme-Demokrat-Islam), sebuah martabak campuran ideologi seperti saya, Buki, Hanas “Genjik” dan Iman, Danang yang macak bijak, Firman yang “cool” dan lain-lain. Diskusi-diskusi yang lain mengalir, dengan sebuah keinginan mencari kearifan universal dengan berbekal latar belakang kami yang beragam waktu itu.
Hampir 4 tahun kemudian, ditahun 1999 ,ketika saya sudah tidak begitu aktif lagi di Kantin ITS, hanya sesekali menyambangi, GPK sudah jauh bertransformasi menjadi sebuah gerakan yang lebih “structurized”, KAMI. Hanya, sayangnya, ada satu yang hilang dari metamorfosis tsb : Kalau GPK, yang lebih cair, person-personnya memiliki dan aktif mengembangkan diskursus untuk olah pikir dan interaksi dengan berbagai elemen aliran melalui diskusi dan bacaan, maka KAMI, setidaknya pada saat itu, lebih banyak termakan isu gerakan dan sangat kurang dalam pemahaman wacana. Bayangkan, seorang “tokoh” KAMI pada waktu itu, tidak tahu apa itu MADILOG, penguasaan dialektika yang pas-pasan, bisa mengucap dengan fasih nama-nama Marx, Nietszhe, Goethe, Habermass, tapi tidak tahu apa itu “ideologi” kiri. Sama saja kita mencoba memahami pikiran Marx tanpa membaca “Das Kapital”, dan memahami gerakan kiri tanpa membaca Manifesto Communist. How come ?
Dengan tingkat penguasaan wacana seperti itu, wajar jika kemudian KAMI menjadi bulan2an dalam beberapa aksinya di kemudian hari, karena tidak cerdas dalam menganalisis issue-issue gerakan, dan hanya menjadi sebuah alat demo tanpa ada proses pembelajaran.
Itu kantin yang dulu, tentunya sekarang jauh berubah. Menjadi lebih hedonis atau feminis ? 
Bagi saya, apapun itu, kantin ITS adalah tempat dimana saya pernah banyak belajar, berorganisasi, dan semoga semangat pembelajaran itu tetap terus terpelihara. That is , what I called as, the spirit of GPK .. Semoga.
Salam,
Mas Jabier
Aktivis Kantin (GPK) 1994-1996, Senat ITS (1996-1997) dan Teater Tiyang Alit (1997-1999).
May 5, 2005
Zarathustra bersunyi di puncak pegunungan bertahun-tahun, mencari esensi semesta dan dirinya sendiri. Suatu hari ditatapnya sang mentari pagi. “Hai bintang yang besar. Macam apa kebahagiaanmu tanpa adanya mereka yang kau sinari.” Dan turunlah ia ke kota-kota, ke yang dinamakan peradaban. Mengajak manusia untuk mengerti arti keberadaannya di semesta ini, memahami kebesaran dirinya sendiri, menolak kebergantungan pribadi pada apa pun. “Tuhan sudah mati.” Zarathustra membunuh Tuhan.
Tentu, ini Zarathustra rekaan Nietzsche. Nietzsche yang hidup di akhir abad ke 19. Kita tahu apa itu akhir abad ke 19. Ilmu pengetahuan dan teknologi sedang mencapai puncaknya, atau setidaknya mereka pikir begitu. Newton dan kawan-kawan membuat semua orang yakin bahwa semesta itu merupakan kalkulasi linear yang dapat diuji, dengan sebab akibat yang jelas. Dan pengaruhnya terekstrapolasi ke Darwin, Marx, juga kemudian Freud, entah siapa lagi. Barangkali 70% ilmu fisika sudah dikuasai, sisanya bisa diprediksikan, dan ilmu-ilmu lain analog dengan fisika.
Tapi sebentar, apakah blog-ing termasuk salah satu bidang yang se-analog dengan fisika..? Saya tidak tahu persis, yang jelas dan yang saya tahu betul, Tuhan selalu menunjukkan keberadaannya (baca: tanda-tanda kehidupan-Nya) dengan 2 mekanisme alam (seperti yang tersirat dala Al Quran surat Al Alaq ayat 1-5), yang pertama, yaitu iqro’ atau membaca dalam arti harfiahnya, yaitu sebuah mekanisme mendasar tentang bagaimana seorang manusia mendapatkan ilmu pengetahuan, membaca bukan berarti menterjemahkan teks-teks yang tertulis, tapi membaca adalah melihat, mengamati, mengambil pelajaran dan mengambil kesimpulan dari semua kejadian yang tersebar di alam semesta. Dan yang kedua adalah al Qalam, yang secara harfiah artinya adalah pena, sebuah perangkat dasar untuk menulis.
Jadi jika di dalam blog ini, 2 komponen dasar itu mati, jangan berharap banyak, kawan..! Bisa jadi Tuhan sedang mati atau reses satu sesi di blog ini, dan menunggu kita untuk membangunkan-Nya lagi..
Salam kenal, Cuk!
May 3, 2005
Weekend kemaren ketemu orang demonstrasi nggak ?
Hari minggu mestinya hari buruh 1 Mei.
Senin Hari Pendidikan Nasional 2 Mei.
(more…)