Weekend kemaren ketemu orang demonstrasi nggak ?
Hari minggu mestinya hari buruh 1 Mei.
Senin Hari Pendidikan Nasional 2 Mei.
Momen pendidikan dan buruh memang kerap dijadikan wacana demonstrasi. Tentu disamping issue Palestina
Masalahnya :
Televisi selalu dan selalu meliput demonstrasi dengan angle : ketertiban dan korelasinya dengan kemacetan jalan.
Lalu siapa yang akan memahami tentang issue sesungguhnya jika terjadi pengaburan angle ?
Sampai-sampai tertanam bahwa demonstrasi penyebab kemacetan. Oh, saat radio SS bilang ada demonstrasi disitu, carilah jalur alternatif lewat ini dan lewat itu. Menurut saya kalo ada demo mestinya jangan cari jalur alternatif, malah mestinya datang kesana dan LIHAT apa yang sebetulnya para demonstran ini teriakkan.
Halllooowww…. Ada yang sedang membangun kesadaran kolektif bangsa disini. Bukan maksud hati menyebabkan kemacetan jalan.
Memang tugas jurnalistik untuk memaparkan pandangan mata secara dua sisi cerita (2 sides to every stories), tapi yang terjadi angle beritanya berat sebelah : demo = macet. Ambil contoh beberapa waktu lalu, saat demo BBM merebak. Yang diliput kebanyakan situasi jalan yang macet. Bukan muatan demonstrasinya.
Justru nabi-nabi baru bernama televisi yang didengerkan orang saat ini, bukan pemuka agama (maaf).
Tau sendiri gimana efeknya sinetron atau acara eksebisionis jin ala Dunia Lain ke anak kecil. Bagaimana kalo acara berita yang liputannya salah angle ? Bisa mabok bangsa.
Di televisi kita bisa lihat bagaimana kebohongan dianggap kebenaran. Yang baik jadi buruk hanya karena angle peliputan.
Contoh : Zarima Ratu Narkoba. Layaknya seh orang seperti ini muncul di acara kelas Buser dan Bang Napi, tapi nyatanya malah muncul di berita selebritis sekelas KISS dan Kabar-Kabari.
Dari yang selayaknya penjahat, malah menjadi “public figure”. Kurang edan yoopo ?
Saya serius pesan ke Ajenk yang udah jadi wartawan : jangan ikut-ikutan salah angle.
Kalo memang bener-bener butuh liputan penyebab kemacetan, saya rasa lebih tepat liputan kunjungan pejabat. Kedatangan 2 pejabat teras dalam satu hari bisa menyebabkan seluruh jalan protokol di Surabayaku yang bersih dan ijo ini muaccet cet cet. Belum lagi polusi kebisingan kena nguing nguing sirene tentara lagi buka jalan…
But I bet, berita dengan angle Kunjungan Pejabat = Macet pasti langsung dibreidel di meja redaktur. Let’s see… Siapa Berani ?
